Merantau

Merantaulah.. agar kamu tau bagaimana rasanya rindu dan kemana harus pulang.

Merantaulah.. engkau akan tahu betapa berharganya waktu bersama keluarga.

Merantaulah.. engkau kan mengerti alasan kenapa kau harus kembali.

Merantaulah akan tumbuh cinta yang tak pernah hadir sebelumnya . pada kampung halamanmu. pada mereka yang kau tinggalkan.

Merantaulah .. engkau akan menghargai tiap detik waktu yang kamu lalui bersama ibu, bapak, adik, kakak, ketika kmau pulang ke rumah.

Merantaulah.. engkau kan lebih paham kenapa orang tuamu berat melepaskanmu pergi jauh.

Merantaulah.. engkau kan lebih mengerti arti sebuah perpisahan.

Merantaulah.. semakin jauh tanah rantauanmu, semakin jarang pulang, semakin terasa betapa berharganya pulang.

Sekali lagi.. Merantaulah.. engkau kan tahu kenapa kau harus pulang dan engkaupun kan tahu siapa yang akan kau rindu

(Negeri 5 Menara)

Merantau. satu hal yang tak pernah terbayang rasanya seperti apa. Awalnya saat saya keluar dari rumah untuk berangkat untuk kuliah merupakan langkah “merantau” saya. Dari daerah kecil di Riau menuju Jakarta dengan segala kemegahannya. Tak sulit pikirku merasakan fase merantau itu. Hal-hal yang tidak ada di daerah tempat tinggalku semua tersedia di Jakarta. Paling hal terberat saat itu jauh dari orang tua saat sakit, sebagai gantinya ada teman, mbak kostan, pacar atau adek kelas yang bisa menemani berobat. Di Jakarta intinya cuma butuh uang, semua bias kita dapatkan dengan mudah. Inikah merantau yang sebenarnya?

Setelah 4,5 tahun saya habiskan di Jakarta, dan sambil menunggu panggilan kerja, masih tak terbayang atau terpikirkan arti kata merantau sebenarnya. Sampai pada saat saya di panggil kerja di tanah Kalimantan. Tempat yang sama sekali belum pernah aku injakan kaki. Tak terbayang bentuk daerahnya seperti apa. Tapi saat itu dengan semangat dan modal nekat, saya melangkahkan kaki maju menuju Kalimantan. Saya bekerja di suatu kabupaten yang membutuhkan waktu 4-5 jam perjalanan darat dari ibukota provinsi. Merantau sejauh itu, jauh dari rumah tinggal di Riau, dengan modal nekat, di umur 23 tahun, tidak ada keluarga satupun di Kalimantan, dan saya perempuan. Ya, mungkin untuk beberapa orang ini sebenarnya hal biasa yang tidak perlu dibesar-besarkan, tapi tidak bagi saya.

Inikah alasan ibu saya cukup berat melepas saya berangkat? anak gadisnya merantau ke negeri antah-berantah tanpa ada keluarga yang menemani, dan masih berumur belia.

Saya merasakannya sekarang, saat saya hampir setahun hidup di negeri orang. Rasa rindu akan rumah dan keluarga hanya bisa dibendung dengan air mata dan doa dalam setiap sujudku kepada Sang Maha Kuasa. Tak punya pilihan lain menahan rindu demi masa depan yang lebih baik, demi membanggakan kedua orang tua.

Kehidupan di rantau juga tidak semudah pada masa kuliah dulu. Sepenuhnya saya sudah harus bisa bertanggungjawab atas diri sendiri, menjaga nama baik diri sendiri dan keluarga, karena apa yang kita kerjakan menjadi perhatian masyarakat di sekitar, apalagi di daerah terpencil di tempat saya bekerja sekarang, dimana semua masih tabu.

Apakah aku mengkhawatirkan ayah dan ibu saya saat saya merantau? apakah aku menambah beban pikiran mereka?

Merantau itu pilihan. Pilihan seseorang untuk mencoba tantangan baru untuk kehidupan lebih baik. Bukan berarti jika kamu tidak merantau kamu tidak akan berhasil.

Yang saya tahu, merantau mengajari saya bagaimana sulitnya berjuang di negeri orang, bagaimana perihnya rindu akan keluarga dan kampung halaman, bagaimana merantau mengajari kita sisi lain dari kehidupan yang selama ini  kita tau.

Semoga merantau saya ini menghasilkan sesuatu yang besar di depan nanti. Can’t wait for Allah’s Epic Plan for me. Amiin ya Allah.



Growing Up

Inget gak waktu kecil dulu kita pernah maen pake baju ayah/ibu kita seakan-akan kita sudah besar, punya kerjaan, seakan-akan semua serba ada, serba keren?


And when the time is come, you will think differently about it. Being an adult it’s not as easy as it look.

Gak bermaksud untuk pamer/sombong. Just wanna share something to thing about. Alhamdulillah, saya terlahir di keluarga yang cukup. Tinggal di suatu kecamatan kecil di pulau sumatera, tapi kecamatan kecil itu merupakan salah satu ladang minyak terbesar di dunia, dan ayah saya bekerja di perusahaan minyak yang mengelola ladang minyak tersebut.

Hidup di tengah-tengah keluarga dan lingkungan yang bekerja di perusahaan minyak itu bisa dikatakan serba ada. Walaupun tinggal di kecamatan kecil, tapi perumahan yang disediakan oleh perusahan serba lengkap dan disetting seperti perumahan di amerika, asal dari perusahaan itu.

Mau berenang, gratis. Mau olahraga basket, bowling, golf sampe paintball disediakan semua fasilitasnya. Mau jalan-jalan keliling kompleks disediain taksi dengan modal 200 perak sampe mana aja. Makanan ala luar negeri disediain, steak, burger dan yang lain bahkan di impor dari luar. Rumah yang luasnya gak tanggung full fasilitas, listrik 24 jam free, air panas-dingin, telpon, semua gratis. Mau jalan-jalan ke Jakarta naik pesawat perusahaan, juga gratis. What a perfect life.

Alhamdulillah, walaupun serba berkecukupan, orang tua saya tetap mengajari saya bahwa segala sesuatunya gak segampang itu ngedapatinnya. Walaupun terkadang suka memanjakan.

Dan kehidupan itu masih saya rasakan sampe saya kuliah. Alhamdulillah, dikasih kostan dengan fasilitas super komplit, tv dan internet free 24 jam.

Sampai pada saat di pertengahan masa kuliah, ayah saya pensiun dari pekerjaannya. Tp gak sepenuhnya fasilitas perusahaan itu hilang, karena saya masih ditanggung perusahaan sampe saya lulus kuliah walaupun ayah sudah pensiun.

Saat itu yang saya rasain cuma sebatas susahnya pelajaran kalkulus atau susahnya lulus dari mata kuliah satuan proses. Masalah terbesar saat itu hanya kegalauan remaja tentang pacar yang gak ada kabar, pacar yang masih sayang sama mantan, atau selingkuhan yang tiba-tiba menghilang.

Sampe pada saatnya saya lulus. Nganggur nyari kerjaan. Panggilan tapi gagal diterima. Ada panggilan lagi dan akhirnya menginjakan kaki di tanah kalimantan untuk perjalanan merantau pertama kali.

A couple of first months at kalimantan seems like a new chapter of life. Exciting. Meeting new people, trying new things that you’ll never try. Everything seems easy and fun. Oh yeah, that i mentioned that i’m working at one of biggest mining company in Indonesia?

Dan beberapa waktu berjalan, hidup yang “sebenarnya” baru di mulai. Gak segala sesuatu selalu berjalan mulus, gak selalu apa yang kita inginkan berjalan lancar. Gak selalu lingkungan yang kita senangi dulu selalu ceria dan bahagia.

Saat itu hal paling mudah adalah resign. Toh gak ada kontrak yang mengikat. Toh saya masih bisa hidup dengan orang tua saya. Toh saya masih bisa cari kerjaan lain. Toh saya belum punya tanggungan yang harus saya hidupi.

Semua gak sesimple itu. Orang tua memang gak pernah menuntut saya buat kerja dan menghidupi kehidupan sendiri. Kerja hanya sebagai bentuk pengalaman dan pelajaran saja, bukan kebutuhan.

Saat semua gak sesuai dengan yang kita inginkan, ya, kita gak punya pilihan lain selain ngehadapin. Semua fasilitas yang kita dapat dari kecil, ternyata gak segampang itu datang dengan sendirinya. Ternyata ayah saya harus mulai dari bawah, dari orang kecil yang hanya dipandang sebelah mata oleh atasan, dari gaji yang cuma puluhan ribu setelah perjuangan 36 tahun berubah menjadi puluhan juta. Ternyata tidak mudah.

Kalau mau egois sih saya bisa aja hidup kongkang-kongkang kaki dibawah ketek ayah ibu saya sampai ada lelaki yang melamar dan menjadi ibu rumah tangga.

Tapi sekali lagi, semia tidak segampang itu.

Sampai pada saat saya bertemu seseorang yang ingin serius menjadi bagian hidup saya, walaupun pekerjaan nya belum terlalu cukup untuk hidup serba ada seperti saya kecil dulu. Walaupun dia juga dulu hidup dengan latar belakang yang tidak jauh dari saya, dari keluarga yang kerja di perusahaan minyak.

Sekarang giliran saya dan dia yang berjuang untuk membangun kehidupan yang mungkin dulu ayah dan ibu saya bangun dengan susah payah juga. Mengumpulkan sedikit demi sedikit gaji kami untuk modal hidup di masa depan dan pernikahan.

Sampai detik ini saya masih suka berpikir saat saya melihat kehidupan teman-teman saya yang sama-sama berasal dari keluarga yang kerja di perusahaan minyak, duduk manis di cafe yang makanannya lumayan mahal, ketawa-ketawa, belanja ini itu di mall, liburan luar negeri ataupun bali dengan duit orang tuanya, dan berpikir, “saya juga bisa seperti itu sebenarnya tanpa bekerja. Saya bisa menghabiskan duit dan fasilitas dari orang tua tanpa harus bekerja keras. Saya kangen masa-masa tanpa beban itu.”. Namun seketika saya tersadar itu semua hanya sementara. Kehidupan yang akan segera hilang saat orang tua tidak bisa lagi membiayai kita.

The thing is, this is the real life. Like it or not. Comfort or not. Walaupun gak selalu hidup mulus-mulus aja, kerjaan tanpa di rendahin bos, dipandang sebelah mata, dan selalu di posisi salah. Gaji yang kita terima setiap akhir bulan adalah “reward”-nya. At least, try your best first, and let Allah do the rest.

Emang gak segampang semua yang di omongin di atas. But, something that you can learn from my life, can be useful someday.


Growing up is……hard. And i know it.











(Source: betulfiliz)



Agreed!

Agreed!





Unanswered Question.

September 30th, 2013.
Monday.
Not just typical monday.
Not for me.
Today, another day to find a hard way about life. The hard way.

Sometimes we can be someone’s best friend, best partner, best lover, best daughter.

But.
No matter hard you try to be their’s best, they just don’t be your’s best.

Semua waktu, tenaga, usaha hampir udah kira curahkan untuk jadi yang “terbaik” buat seseorang, tapi belum tentu kita yang terbaik buat seseorang itu.

Be a good listener and shoulder to cry on for your friend. Be someone that your boyfriend need, be the cool girlfriend, but he just not trying his best to be yours best. Be a good girl to your parent and still you don’t earn their fully trust.

Apa kita kurang bersyukur dengan semuanya? Kurang menerima segala sesuatunya? Kurang dekat dengan-Nya?

I just need one. One person. Is that much to ask?

Satu orang yang mengerti. Mengajari. Menerima apa adanya. Mengkhawatiri. Merindukan.
Apa itu semua sulit?

Astagfirullah ya Allah, jika semua ini terkesan tidak mensyukuri. Saya bersyukur dengan segala yang Engkau berikan. Tapi apa saya salah untuk meminta satu orang untuk ada disebelah saya saat saya mensyukuri segala nikmat dariMu? Menjalani segala ujian dariMu?

Just one. That who can i turn on when anything happen. That could miss me when i’m not around. And worried if i’m in trouble. Just one. It could be a friend or lover. It could be anyone. And i promise to be her/his best too.

Ajari saya ikhlas, Ya Allah. Ikhlas menerima segalanya. Tapi tetap manusia butuh seseorang, kan?

Can i have it, God?